Masjid Pertama di Indonesia: Jejak Sejarah dan Budaya
Masjid Pertama di Indonesia, Jejak Sejarah dan Budaya - Indonesia bukan hanya negeri yang kaya akan keindahan alam, tetapi juga memiliki warisan sejarah dan budaya Islam yang luar biasa. Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menyimpan banyak kisah menarik tentang awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Salah satu buktinya adalah kehadiran masjid-masjid tua yang menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam sejak ratusan tahun lalu.
Salah satu masjid tertua sekaligus yang disebut sebagai masjid pertama di Indonesia adalah Masjid Saka Tunggal Baitussalam, yang berada di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga lambang dari perpaduan harmoni antara ajaran Islam dan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Program Umroh Akhir Ramadhan 2025 SAMTOUR Purwokerto Program Umroh Akhir Ramadhan 2025 SAMTOUR Purwokerto Kesempatan Beribadah dengan Penuh Keberkahan Program Umroh Akhir Ramadhan 2025 SAMTOUR Purwokerto - Menjalani ibadah umroh pada bulan Ramadhan merupakan impian bagi banyak umat Muslim. Terlebih lagi, melaksanakan umroh pada akhir Ramadhan memberikan pengalaman spiritual yang lebih mendalam |
Apa Itu Masjid Saka Tunggal?

Masjid Saka Tunggal Baitussalam terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Nama “Saka Tunggal” berasal dari ciri khas bangunannya, yaitu hanya memiliki satu tiang penyangga utama atau dalam bahasa Jawa disebut “saka”. Kata “saka” berarti tiang, sementara “tunggal” berarti satu.
Uniknya, satu tiang tersebut bukan sekadar penopang fisik bangunan, tapi juga menyimpan nilai simbolik dan filosofi yang dalam. Bahkan, saka ini dilindungi oleh kaca karena pada bagian bawahnya terdapat tulisan kuno yang menyebutkan tahun pembangunan masjid ini, yakni sekitar tahun 1288 Masehi. Artinya, masjid ini dibangun sekitar dua abad sebelum masa Wali Songo menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Siapa Pendiri Masjid Ini?
Masjid Saka Tunggal didirikan oleh seorang tokoh ulama bernama Kiai Mustolih atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Tolih. Beliau merupakan pendakwah Islam awal yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah Banyumas dengan pendekatan yang lembut dan akulturatif, sehingga diterima masyarakat dengan tangan terbuka.
Mbah Tolih mengajarkan nilai-nilai Islam tidak secara frontal, melainkan dengan menyelaraskan ajaran Islam dengan nilai-nilai budaya dan kepercayaan masyarakat setempat. Inilah sebabnya masjid ini kental dengan nuansa lokal, mulai dari bentuk bangunan hingga tradisi keagamaan yang masih dipertahankan hingga hari ini.
baca juga : 10 masjid tercantik di dunia
Arsitektur yang Menyatu dengan Alam dan Filosofi Jawa

Masjid Saka Tunggal tidak seperti masjid-masjid besar dengan kubah megah dan marmer mengkilap. Masjid ini berdiri dengan kesederhanaan yang penuh makna. Bangunannya masih mempertahankan bentuk asli, seperti atap dari ijuk, dinding dari anyaman bambu, dan satu tiang kayu sebagai penyangga utama. Semua bahan berasal dari alam sekitar, memperlihatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan nilai-nilai lokal.
Arsitekturnya dipengaruhi oleh gaya Kerajaan Singasari dan Majapahit, bukan dari Arab. Ini menjadi bukti bahwa Islam datang ke Indonesia dengan cara damai dan merangkul budaya lokal. Filosofi yang digunakan dalam pembangunannya adalah konsep “papat kiblat lima pancer”, yaitu empat arah mata angin yang melambangkan unsur kehidupan (tanah, air, api, udara) dan satu pusat manusia sebagai khalifah di bumi. Filosofi ini sangat sejalan dengan ajaran Islam tentang keseimbangan dan tanggung jawab manusia terhadap alam semesta.
Tradisi Lokal yang Tetap Lestari di Masjid Saka Tunggal

Keunikan masjid ini tidak hanya terletak pada bangunannya, tetapi juga pada tradisi keagamaan yang masih dilestarikan masyarakat sekitar. Berikut beberapa tradisi khas Masjid Saka Tunggal:
1. Zikir dan Shalawat “Ura-Ura”
Setiap hari Jumat, sebelum dan sesudah salat Jumat, jamaah akan melantunkan zikir dan shalawat yang dikenal dengan nama "ura-ura". Ini adalah lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang dibawakan dalam gaya kidung Jawa, menggunakan campuran bahasa Arab dan Jawa. Suara lembut dan merdu ini menciptakan suasana sakral dan damai.
2. Tanpa Pengeras Suara
Meski zaman telah berubah dan teknologi sudah canggih, masjid ini tetap mempertahankan tradisi tidak menggunakan pengeras suara. Adzan dikumandangkan oleh empat muazin sekaligus dari empat arah, dan suara mereka yang bergema justru membuat suasana menjadi lebih syahdu dan alami.
3. Imam Menggunakan Udeng
Jika di masjid lain imam biasanya mengenakan peci atau sorban, maka di Masjid Saka Tunggal imam salat mengenakan udeng, yakni kain pengikat kepala khas Jawa. Ini menjadi simbol kuatnya akar budaya lokal yang tetap terjaga tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah.
Mengapa Masjid Ini Penting untuk Diketahui?
Masjid Saka Tunggal bukan hanya penting secara sejarah karena menjadi masjid tertua, tapi juga menjadi pelajaran penting bagi generasi masa kini. Masjid ini menunjukkan bahwa Islam tidak datang dengan kekerasan atau paksaan, melainkan lewat pendekatan budaya dan kearifan lokal.
Keberadaan masjid ini juga menjadi penanda sejarah penting bahwa Islam telah hadir dan diterima di Nusantara sejak abad ke-13. Ia menjadi bukti bahwa Islam bisa bersinergi dengan budaya yang ada, menciptakan masyarakat yang toleran, harmonis, dan tetap menjaga nilai-nilai spiritual.
sponsor : Umroh Agustus 2025
Kesimpulan
Masjid Saka Tunggal di Desa Cikakak, Banyumas, bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan panjang Islam di Indonesia. Dengan arsitektur sederhana, filosofi mendalam, dan tradisi yang masih dilestarikan hingga kini, masjid ini adalah perpaduan sempurna antara Islam dan budaya Jawa.
Bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah masuknya Islam di Indonesia, berkunjung ke Masjid Saka Tunggal adalah perjalanan spiritual yang tidak boleh dilewatkan. Tempat ini mengajarkan kita bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk mempererat iman dan persaudaraan.
baca juga : 3 masjid paling afdhal untuk sholat
5 FAQ Seputar Masjid Pertama di Indonesia
1. Apa benar Masjid Saka Tunggal adalah masjid tertua di Indonesia?
Ya, masjid ini dipercaya berdiri pada tahun 1288 M, jauh sebelum masa Wali Songo, dan dianggap sebagai masjid tertua yang masih berdiri hingga sekarang.
2. Siapa yang membangun Masjid Saka Tunggal?
Masjid ini didirikan oleh Kiai Mustolih atau Mbah Tolih, seorang ulama dan penyebar agama Islam di wilayah Banyumas.
3. Apa makna dari tiang tunggal di tengah masjid?
Tiang tersebut bukan hanya sebagai penopang bangunan, tapi juga melambangkan konsep "papat kiblat lima pancer" dalam filosofi Jawa-Islam.
4. Apakah masjid ini masih digunakan untuk salat?
Ya, Masjid Saka Tunggal masih aktif digunakan untuk ibadah dan menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat.
5. Bagaimana akses menuju Masjid Saka Tunggal?
Masjid ini bisa dicapai dengan kendaraan dari kota Purwokerto atau Banyumas, dengan waktu tempuh sekitar 1–1,5 jam tergantung lalu lintas. Lokasinya berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon.
Jika Anda mencari tempat bersejarah sekaligus spiritual, Masjid Saka Tunggal adalah jawabannya.
